Kenali Fakta Epilepsi yang Tidak Menular dan Cara Pertolongan Yang Tepat

Rabu, 21 Januari 2026 | 15:54:42 WIB
Kenali Fakta Epilepsi yang Tidak Menular dan Cara Pertolongan Yang Tepat

JAKARTA - Epilepsi sering menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. 

Baru-baru ini muncul anggapan bahwa penyakit ini bisa menular lewat ludah saat kejang. Beredar pula video dan komentar yang membuat sebagian orang takut menolong pasien epilepsi.

Ketakutan semacam ini memperpanjang stigma terhadap penderita epilepsi. Padahal, secara medis, epilepsi adalah kondisi neurologis yang tidak menular. Pemahaman yang salah justru membuat pasien lebih rentan saat mengalami kejang.

Masyarakat perlu mengetahui fakta agar tidak ragu memberikan pertolongan. Edukasi dan informasi akurat menjadi kunci memutus mitos yang beredar. Dengan begitu, pasien tetap bisa mendapatkan bantuan yang mereka perlukan.

Apa Itu Epilepsi dan Penyebabnya

Epilepsi adalah gangguan neurologis akibat aktivitas listrik otak yang abnormal. Penyakit ini tidak disebabkan oleh infeksi, bakteri, atau virus. Karena itu, epilepsi tidak dapat berpindah melalui air liur, sentuhan, maupun berada di dekat pasien.

Otak pada penderita epilepsi mengirimkan sinyal listrik secara berlebihan dan tidak teratur. Kondisi ini memicu kejang, gangguan kesadaran, atau gerakan tubuh yang tak terkendali. Epilepsi bukan gangguan kejiwaan dan tidak ada kaitannya dengan hal mistis.

Penyebab epilepsi beragam, mulai dari cedera kepala, infeksi otak, stroke, tumor, hingga gangguan bawaan. Dalam beberapa kasus, penyebab pastinya memang tidak selalu bisa diketahui. Namun, faktor-faktor tersebut tetap bisa diidentifikasi melalui pemeriksaan medis.

Data Global dan Situasi di Indonesia

Sekitar 50 juta orang di dunia hidup dengan epilepsi. Di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,4 juta orang. Meskipun jumlahnya besar, pemahaman masyarakat terhadap kondisi ini masih minim.

Kurangnya pengetahuan menyebabkan banyak orang takut menolong saat kejang terjadi. Padahal, pertolongan yang cepat sangat penting untuk keselamatan pasien. Edukasi publik menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko dan stigma.

Ketakutan yang muncul akibat informasi keliru justru menambah bahaya bagi penderita. Saat kejang, pasien sangat membutuhkan bantuan segera. Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting untuk keselamatan mereka.

Gejala dan Pertolongan Saat Kejang

Epilepsi tidak selalu ditandai kejang besar. Beberapa gejala bisa berupa tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat. Mengenali gejala awal membantu pasien segera mendapat penanganan.

Saat menyaksikan kejang, yang terpenting adalah tetap tenang. Langkah yang dianjurkan antara lain memiringkan tubuh pasien, menjauhkan benda keras di sekitar, dan melonggarkan pakaian di area leher. Mencatat durasi kejang juga membantu tenaga medis menentukan penanganan lebih lanjut.

Yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda ke mulut pasien atau menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadarannya pulih. Pertolongan sederhana tetapi tepat dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah cedera.

Edukasi dan Pencegahan Stigma

Stigma terhadap epilepsi masih sering muncul di media sosial dan masyarakat. Kesalahpahaman tentang penularan dapat merampas hak pasien untuk ditolong dan hidup bermartabat. Edukasi menjadi kunci untuk mengubah persepsi keliru ini.

Masyarakat perlu tahu bahwa epilepsi adalah kondisi medis yang bisa dikelola. Dengan informasi akurat, orang lebih berani menolong saat pasien mengalami kejang. Kesadaran ini juga mengurangi diskriminasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Penyebaran informasi yang benar membuat pasien epilepsi dapat beraktivitas normal. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar penting untuk mencegah isolasi sosial. Langkah-langkah sederhana seperti memberikan pertolongan yang tepat saat kejang sudah menjadi kontribusi besar bagi keselamatan pasien.

Terkini