JAKARTA - Indonesia Data Center Provider Organization memproyeksikan adanya penambahan kapasitas pusat data nasional sepanjang tahun 2026.
Tambahan kapasitas tersebut diperkirakan berada pada kisaran 80 hingga 120 megawatt. Proyeksi ini mencerminkan optimisme industri terhadap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital nasional.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma menyampaikan bahwa proyeksi tersebut didasarkan pada survei internal organisasi. Selain itu, masukan dari para anggota menjadi indikator utama dalam penyusunan estimasi. Mayoritas operator pusat data disebut telah memiliki agenda peningkatan kapasitas pada tahun ini.
“Secara agregat, diperkirakan akan ada penambahan kapasitas minimal sebesar 80–120 MW tahun ini,” kata Hendra. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut bergantung pada kesiapan infrastruktur dan permintaan pasar. Stabilitas ekonomi makro juga menjadi faktor penentu realisasi ekspansi.
Faktor Pendorong Ekspansi Data Center
Hendra menjelaskan terdapat sejumlah pertimbangan utama yang mendorong peningkatan kapasitas pusat data di Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan layanan komputasi awan. Kebutuhan ini datang dari sektor publik maupun swasta.
Selain layanan cloud, permintaan terhadap kecerdasan buatan juga terus meningkat. Perkembangan teknologi AI membutuhkan kapasitas pusat data yang besar dan andal. Kondisi ini mendorong operator melakukan ekspansi secara bertahap.
Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah kewajiban penyimpanan data di dalam negeri. Regulasi tersebut mendorong perusahaan untuk membangun infrastruktur lokal. “Serta komitmen perusahaan untuk mengadopsi konsep green data center,” ujar Hendra.
Minat Investor Global Terus Meningkat
IDPRO juga mencatat tingginya minat pelaku global untuk masuk ke pasar pusat data Indonesia. Dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun ke depan, diperkirakan akan ada lima hingga delapan pemain baru. Proyeksi ini didasarkan pada pemantauan internal organisasi.
Para calon investor tersebut berasal dari berbagai kawasan dunia. Hendra menyebut Asia Timur, Amerika Utara, dan Eropa sebagai wilayah asal investor. Masuknya pemain global dinilai memperkuat ekosistem pusat data nasional.
Menurut Hendra, daya tarik utama Indonesia terletak pada pertumbuhan ekonomi digital. “Tahun 2030 diperkirakan gross merchandise value akan mencapai USD350 miliar,” katanya. Kebutuhan cloud lokal dan kebijakan pro-investasi turut memperkuat minat tersebut.
Peran IDPRO Dukung Investasi Data Center
Dalam mendukung masuknya investasi, IDPRO menjalankan peran strategis sebagai penghubung. Organisasi ini menjembatani pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, dan investor. Pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama pengembangan sektor ini.
Peran tersebut dijalankan melalui sejumlah strategi utama. Pertama adalah advokasi regulasi dengan bekerja sama bersama instansi pemerintah. Upaya ini ditujukan untuk mendorong kebijakan yang mendukung iklim investasi.
Strategi kedua adalah promosi kolaboratif melalui berbagai forum investasi. IDPRO bersama mitra memfasilitasi diskusi terbuka dengan calon investor global. Selain itu, penguatan sumber daya manusia dan ekosistem pendukung terus didorong secara berkelanjutan.
Perkembangan Kapasitas Nasional hingga 2029
Hingga April 2025, tercatat sebanyak 180 pusat data telah beroperasi di Indonesia. Delapan di antaranya dikategorikan sebagai Tier 4 dengan kemampuan operasional tertinggi. Tiga pusat data lainnya difokuskan pada teknologi kecerdasan buatan.
Dari sisi kapasitas, total pusat data nasional tercatat sebesar 190 megawatt pada Oktober 2024. Angka tersebut meningkat menjadi 290 megawatt pada Juni 2025. Peningkatan ini menunjukkan percepatan pembangunan infrastruktur digital.
Kapasitas pusat data nasional per kapita ditargetkan terus meningkat hingga 2029. Setelah mencapai 2,81 watt per kapita pada 2026, kapasitas direncanakan naik secara bertahap. Dalam lima tahun, kapasitas diproyeksikan meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan posisi awal.