Penjualan Ban Membaik 2025, Bridgestone Optimistis Pertumbuhan Berlanjut Tahun Depan

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:26:45 WIB
Penjualan Ban Membaik 2025, Bridgestone Optimistis Pertumbuhan Berlanjut Tahun Depan

JAKARTA - Pemulihan industri otomotif nasional belum sepenuhnya merata, terutama di tengah tekanan daya beli masyarakat dan perlambatan penjualan kendaraan baru. 

Namun, di balik tantangan tersebut, pelaku industri ban masih menemukan ruang pertumbuhan, khususnya dari segmen pasar penggantian ban (replacement) dan penguatan distribusi. Kondisi inilah yang mendorong Bridgestone Tire Indonesia tetap menatap 2026 dengan optimisme terukur.

Presiden Direktur Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 kinerja penjualan perusahaan menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi pasar domestik, permintaan dan penjualan tercatat meningkat sekitar 5% dibandingkan 2024, meskipun situasi ekonomi belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.

“Kinerja 2025, dari segi penjualan dan permintaan ada kenaikan dari 2024 sekitar 5% untuk domestik, meskipun kita lihat itu tentunya bisa kita dapatkan dengan berbagai macam sales campaign untuk membuat lebih menarik untuk customer, mengingat daya beli customer masih drop dari sebelum Covid,” ujar Mukiat.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif di tengah tekanan konsumsi rumah tangga yang masih berlangsung. Bridgestone menilai, strategi pemasaran yang adaptif dan beragam menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan penjualan, terutama saat konsumen semakin selektif dalam membelanjakan pengeluaran nonprimer.

Prospek Industri Ban di 2026

Memasuki 2026, Bridgestone memandang prospek industri ban nasional masih memiliki peluang untuk tumbuh, meskipun tantangan ekonomi belum sepenuhnya mereda. Mukiat memperkirakan pertumbuhan industri ban secara keseluruhan dapat berada di kisaran 4% hingga 5% secara tahunan.

Proyeksi tersebut didasarkan pada kombinasi antara stabilisasi permintaan domestik, kebutuhan ban pengganti yang terus berjalan, serta peluang ekspor yang masih terbuka. Meski penjualan kendaraan baru melambat, kebutuhan ban tidak sepenuhnya berhenti karena kendaraan yang sudah beredar tetap membutuhkan perawatan dan penggantian komponen secara berkala.

Dampak Perlambatan Penjualan Mobil Baru

Di sisi lain, perlambatan penjualan mobil baru dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap industri ban dalam jangka pendek. Mukiat menjelaskan bahwa efek perlambatan tersebut umumnya baru akan terasa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seiring dengan siklus penggunaan kendaraan.

Ia menambahkan bahwa penjualan mobil baru sepanjang 2025 sekitar 14%–15% didominasi oleh merek asal China. Sebagian besar kendaraan tersebut sejak awal sudah menggunakan ban buatan China sebagai perlengkapan standar.

“Walaupun dari Bridgestone sendiri kita juga meng-approach merek China tersebut untuk menjadi OEM supplier,” jelas Mukiat.

Pendekatan tersebut menunjukkan upaya Bridgestone untuk tetap relevan di tengah perubahan struktur pasar otomotif, termasuk meningkatnya penetrasi merek kendaraan asal China di Indonesia.

Pasar Replacement Jadi Penopang Utama

Dalam kondisi pasar kendaraan baru yang melambat, segmen replacement masih menjadi penopang utama industri ban. Namun, kontribusi signifikan dari segmen ini biasanya baru akan terasa setelah kendaraan digunakan selama beberapa tahun.

Artinya, permintaan ban pengganti sangat bergantung pada populasi kendaraan yang sudah beroperasi dan usia pakainya. Dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah dari tahun ke tahun, pasar replacement dinilai tetap memiliki potensi jangka menengah hingga panjang.

Bridgestone pun memfokuskan strategi pemasarannya pada segmen ini dengan memperluas jangkauan distribusi serta meningkatkan kedekatan dengan konsumen akhir melalui jaringan ritel.

Tantangan Segmen Kendaraan Niaga

Selain kendaraan penumpang, segmen kendaraan niaga juga memberikan kontribusi penting terhadap kinerja Bridgestone. Saat ini, sekitar 30% dari total penjualan Bridgestone berasal dari segmen truk dan bus.

Namun demikian, outlook segmen kendaraan niaga pada 2026 masih dibayangi tantangan. Kondisi kendaraan niaga dinilai belum sepenuhnya pulih sejak 2025, seiring dengan aktivitas logistik dan proyek yang masih beradaptasi dengan kondisi ekonomi.

Pemulihan segmen ini sangat bergantung pada pergerakan sektor riil, termasuk konstruksi, distribusi barang, dan aktivitas industri lainnya. Meski demikian, Bridgestone tetap memantau peluang pertumbuhan secara selektif di segmen ini.

Strategi Ekspansi dan Penguatan Distribusi

Untuk menjaga momentum pertumbuhan di 2026, Bridgestone telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah ekspansi jaringan toko dan penguatan distribusi, terutama di wilayah sub-kota dan kota-kota kecil yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Wilayah-wilayah tersebut dipandang sebagai pasar yang masih berkembang, dengan tingkat kepemilikan kendaraan yang terus meningkat dan kebutuhan layanan purna jual yang semakin besar.

Selain fokus pada pasar domestik, Bridgestone juga menegaskan komitmennya untuk mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar ekspor. Perusahaan juga membuka peluang untuk memperluas pasar ekspor baru pada 2026, seiring dengan permintaan global yang mulai stabil.

“Untuk pasar ekspor kita akan mempertahankan nomor satu, tapi juga akan melihat kemungkinan untuk memperluas pasar ekspor di 2026. Dan secara domestik kita akan memperkuat jaringan distribusi apalagi di daerah atau kota yang sedang berkembang sekarang ini,” pungkas Mukiat.

Dengan strategi yang terukur dan fokus pada segmen yang resilien, Bridgestone optimistis dapat menjaga pertumbuhan kinerja di tengah dinamika industri ban yang masih penuh tantangan.

Terkini