JAKARTA - Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA) di Banyuasin, Sumatera Selatan, kini menjadi jalur utama menuju Pulau Bangka.
Posisi pelabuhan yang strategis di Pantai Timur Sumatra menghadapi Selat Bangka memudahkan mobilitas warga dan wisatawan. TAA menjadi titik transportasi laut penting dengan akses yang lebih cepat dibandingkan pelabuhan lama.
Sejak beroperasi penuh pada 2007, TAA menggantikan pelabuhan lama di Sungai Musi 35 Ilir, Palembang. Kendala sedimentasi dan pasang surut di pelabuhan lama membuat waktu tempuh ke Muntok bisa mencapai 10 jam. Kini, dengan TAA, perjalanan hanya membutuhkan sekitar 3–4 jam penyeberangan.
Keberadaan pelabuhan ini juga mendukung aktivitas ekonomi lokal. Kapal feri yang beroperasi secara rutin memudahkan distribusi barang dan jasa antarpulau. Efisiensi waktu dan akses membuat TAA diminati penumpang dan operator transportasi.
Jadwal Kapal Feri Tanjung Api-Api
Kapal feri berangkat dari Pelabuhan TAA menuju Muntok, Bangka, setiap dua jam sekali. Pada hari kerja maupun akhir pekan, sepuluh armada disiapkan untuk mengakomodasi lonjakan penumpang. Hal ini memastikan mobilitas masyarakat tetap lancar tanpa antrean panjang.
Penyeberangan pertama dimulai pukul 07.00 WIB dengan kapal Wira Camelia. Penyeberangan berikutnya dilakukan pukul 09.00, 11.00, 13.00, 15.00, 17.00, 19.00, 21.00, dan pukul 00.00. Armada yang beroperasi meliputi Garda Maritim 5, Mutiara Pertiwi III, Munic VII, Andhika Nusantara, Mutis, Gunsa 8, Belanak, dan Dharma Santosa.
Penumpang diingatkan untuk menyesuaikan jadwal karena perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu. Faktor cuaca buruk atau gelombang tinggi di Selat Bangka dapat memengaruhi keberangkatan. Pihak pelabuhan selalu memberikan informasi terbaru kepada penumpang agar perjalanan tetap aman.
Tarif Penyeberangan TAA Terbaru
Tarif penyeberangan dari TAA ke Muntok bervariasi sesuai jenis kendaraan dan penumpang. Tiket untuk penumpang dewasa dikenakan Rp53.000 per orang, sedangkan sepeda masuk golongan 1 seharga Rp70.950. Tarif sepeda motor dibedakan berdasarkan kapasitas mesin, mulai dari Rp129.700 hingga Rp218.150.
Mobil penumpang dan mobil barang dikenai tarif golongan 4, mulai dari Rp880.626 hingga Rp1.012.340. Kendaraan besar, bus, dan truk panjang memiliki tarif lebih tinggi, mulai Rp1.632.354 hingga Rp5.664.400. Penetapan tarif ini bertujuan menyesuaikan dengan kapasitas angkut dan jenis kendaraan yang digunakan.
Selain itu, tarif yang transparan memudahkan masyarakat merencanakan perjalanan. Penumpang dapat menyesuaikan anggaran sebelum berangkat. Sistem ini juga mendorong efisiensi operasional di pelabuhan.
Sejarah dan Perkembangan Pelabuhan TAA
Pelabuhan TAA mulai dibangun untuk menggantikan pelabuhan lama di Sungai Musi yang mengalami kendala sedimentasi. Sejak beroperasi penuh pada 2007, pelabuhan ini menjadi pusat penyeberangan utama Sumatera Selatan ke Bangka. Infrastruktur modern dan lokasi strategis mempercepat proses transportasi laut.
TAA juga mempersingkat waktu tempuh dari Palembang ke Muntok yang sebelumnya hingga 10 jam. Saat ini, kapal feri hanya membutuhkan waktu 3–4 jam, membuat perjalanan lebih nyaman dan efisien. Hal ini meningkatkan daya tarik TAA sebagai jalur transportasi utama.
Perkembangan pelabuhan ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Aktivitas perdagangan, pariwisata, dan logistik menjadi lebih lancar. TAA juga membantu mengurangi beban pelabuhan lama dan mengoptimalkan mobilitas masyarakat antarpulau.
Manfaat Penyeberangan bagi Masyarakat
Kapal feri dari TAA memberikan akses mudah bagi warga dan wisatawan menuju Pulau Bangka. Penumpang dapat membawa kendaraan pribadi maupun barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini membantu kelancaran transportasi barang dan orang sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Selain itu, penyeberangan yang rutin menciptakan kepastian jadwal bagi masyarakat. Keberadaan armada lengkap memungkinkan layanan yang cepat dan aman. Anak-anak, pekerja, serta wisatawan bisa merencanakan perjalanan tanpa khawatir keterlambatan atau antrean panjang.
Penyeberangan TAA juga mendukung pertumbuhan ekonomi regional. Mobilitas barang dan manusia yang efisien mendorong perdagangan, jasa, dan pariwisata di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Pelabuhan ini menjadi titik vital untuk konektivitas antarwilayah dan pengembangan daerah pesisir.