JAKARTA - Pawai takbiran menjadi tradisi yang selalu menambah semarak Idulfitri.
Masyarakat berkumpul untuk mengumandangkan takbir dan berjalan mengelilingi masjid maupun kampung. Suasana penuh sukacita ini menjadi salah satu wujud rasa syukur umat Islam setelah sebulan berpuasa.
Takbiran adalah kebiasaan umat Islam melafalkan kalimat “Allahu Akbar” untuk mengagungkan Allah SWT. Tradisi ini biasanya dilakukan pada malam hari raya Idulfitri maupun Iduladha. Selain sebagai ucapan syukur, takbiran menjadi tanda kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah puasa.
Asal-Usul Takbiran
Secara bahasa, takbiran berasal dari kata kabaro, yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Nama Allah, Al-Akbar, yang artinya Maha Besar, menjadi dasar dari kalimat takbir yang sering diucapkan, yaitu “Allahu Akbar”. Perintah bertakbir tertulis dalam Al-Qur’an, yang mendorong umat untuk memuliakan Allah atas petunjuk dan nikmat yang diberikan.
“Takbiran itu membesarkan melalui nama-Nya, melalui kalimat-kalimat-Nya, termasuk merenungkan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala,” ujar Dartim, dosen Pendidikan Agama Islam.
Di zaman Rasulullah SAW, umat Islam mengumandangkan takbir menjelang salat Idulfitri. Hadis riwayat asy-Syafi’i mencatat bahwa Ibnu Umar bertakbir sejak berangkat ke lapangan hingga tiba di tempat shalat.
Seiring berkembangnya Islam di Nusantara, takbiran mulai dilakukan di masjid dan alun-alun, terutama pada masa Kesultanan Demak. Tradisi ini semakin beragam, termasuk parade mobil hias, pawai obor, hingga pemanfaatan media digital. Bentuk-bentuk ini tetap menekankan tujuan utama, yaitu memuliakan Allah dan menyambut hari kemenangan.
Makna Takbiran
Takbiran memiliki makna utama membesarkan Allah dan mengingatkan manusia agar tidak sombong. “Manusia memang kecil, sehingga tidak pantas merasa besar karena Allah-lah yang seharusnya kita agungkan,” ujar Dartim. Selain itu, takbiran menjadi bentuk taqarrub, cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi ini juga merupakan ungkapan syukur atas nikmat yang diterima sepanjang bulan Ramadan. Lantunan takbir menandai hari kemenangan dan keberhasilan melewati ujian puasa. Hal ini juga menunjukkan peningkatan ketakwaan dan amal ibadah umat, sekaligus kemenangan spiritual bagi mereka yang menjalani Ramadan dengan penuh keikhlasan.
Menurut Hadis Riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca takbiran pada malam hari raya dapat melebur dosa-dosa yang telah lalu. “Perbanyaklah membaca takbiran karena hal itu dapat melebur dosa-dosa,” demikian sabda beliau. Takbiran menjadi wujud rasa syukur yang nyata melalui zikir dan pengagungan nama Allah.
Takbiran Menurut Muhammadiyah
Di Indonesia, tradisi takbiran dilakukan dengan berbagai cara. Sebagian mengumandangkan takbir menggunakan pengeras suara di masjid, sebagian lainnya melakukan pawai keliling kampung sambil memukul beduk dan menyalakan obor. Namun Muhammadiyah menekankan bahwa esensi takbiran adalah syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam.
“Bukan takbirannya yang bermasalah, tapi cara kita membawakannya apakah sudah sesuai dengan rahmatan lil ‘alamin,” kata Dartim. Aktivitas takbiran yang berlebihan atau berisiko merusak, seperti suara pengeras suara yang terlalu keras atau atraksi pawai yang membahayakan, dapat mengurangi makna spiritual. Tujuan utamanya tetap menyebarkan semangat Islam tanpa menimbulkan kerusakan.
Dartim mengingatkan agar umat kembali memaknai takbiran sebagai momentum syiar dan mendekatkan diri kepada Allah. Tradisi yang menyimpang dari nilai-nilai tersebut sebaiknya dihentikan. Dengan demikian, takbiran tetap menjadi pengingat dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT secara khidmat.
Pelestarian dan Penghayatan Takbiran
Takbiran bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana memperkuat iman dan kesadaran spiritual. Mengumandangkan takbir sambil merenungkan kebesaran Allah menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. “Dengan kita bertakbiran, kita menyaksikan ayat-ayat Allah yang sangat besar dan menjadi orang yang bersyukur,” ujar Dartim.
Generasi muda diharapkan memahami makna ini agar tradisi takbiran tidak kehilangan esensi. Pelestarian tradisi harus dikombinasikan dengan penghayatan spiritual.
Perayaan yang dilakukan secara khidmat menegaskan kemenangan umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa, sekaligus menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam masyarakat.
Takbiran mengajarkan umat untuk bersikap rendah hati, bersyukur, dan selalu mengingat Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. Tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan nilai-nilai Islam bagi masyarakat luas.
Dengan penghayatan yang benar, takbiran menjadi pendorong spiritual sekaligus simbol kebersamaan yang harmonis di hari kemenangan Idulfitri.